STUDI BANDING

Studi Banding atau yang sering disingkat stuba merupakan salah satu program kerja HIMASEPTA yang diadakan dengan tujuan untuk membandingkan dan bertukar ilmu dari lembaga sejenis dari universitas lain serta dapat mendapatkan informasi baru yang berkaitan dengan pertanian dari beberapa lokasi yang dikunjungi. Stuba kali ini dilaksanakan dengan mengunjungi Keluarga Mahasiswa Sosial Ekonomi Pertanian (KMSEP) Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Selain kunjungan ke lembaga sejenis, stuba ini juga mengunjungi salah satu KWT yang berada di Kabupaten Karanganyar. Stuba kali ini berlangsung selama dua hari yaitu pada tanggal 24-25 Februari 2018.

Selama kunjungan ke KMSEP UGM, setiap bidang yang berada di HIMASEPTA dapat bertukar informasi mengenai lembaga yang dijalankan dengan bidang sejenis yang ada di KMSEP UGM. Selain menambah informasi mengenai kelembagaan, para pengurus juga dapat menjalin relasi yang lebih baik dengan universtas lain.

KWT Manunggal Usaha merupakan kelompok wanita tani yang menggeluti usaha budidaya anggrek yang di dalamnya sudah memiliki sistem manajemen yang baik, sehingga HIMASEPTA UMY berkunjung dengan tujuan untuk belajar mengenai berbagai hal yang berkaitan dengan pertanian maupun sistem manajemen dari kelompok tersebut. Berlangsung dari pukul 10.00 WIB, acara ini diisi dengan pemaparan kegiatan dari KWT tersebut yang dilanjutkan dengan sesi tanya jawab dan kunjungan ke salah satu tempat budidaya anggrek. Setelah itu dilanjutkan dengan berkunjung ke salah satu lokasi wisata yang ada di Karanganyar, yaitu air terjun Grojogan Sewu.

Editor & Penulis : Bidang KOMINFO HIMASEPTA UMY

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Alih Fungsi Lahan di Yogyakarta

alih-fungsi-lahan-pertanian-2-bisnis-indonesia

Yogyakarta adalah salah satu kota sejarah di Indonesia yang masih ada bahkan makin hari makin berkembang, baik dalam segi kehidupan masyarakatnya maupun spasialnya. Perkembangannya dapat dilihat dari semakin banyaknya gedung-gedung maupun fasilitas publik yang dibangun. Setiap tahunnya kegiatan pembangunan untuk lahan bisnis semakin meningkat, sehingga lahan pertanian pun ikut tergeser.

Semakin gencarnya pembangunan hotel dan perumahan di Yoyakarta berdampak pada jumlah lahan pertanian yang ada, karena kebanyakan pembangunan dilakukan di atas lahan pertanian, terutama sawah. Alih fungsi lahan yang terjadi di Yogja ini terbilang cukup tinggi. Hal ini dipengaruhi oleh belum tegasnya regulasi pengaturan penggunaan lahan di Yogyakarta.

Alih fungsi lahan yang terjadi di Yogyakarta mencapai 200-250 hektare per tahun. Banyak areal persawahan yang kemudian berubah fungsi menjadi permukiman dan ruang usaha ataupun industry.  Secara nasional maupun tingkat provinsi sudah ada peraturan khusus dalam pengendalian alih fungsi lahan misalnya saja pada perda nomor 10/2011 tentang perlindungan lahan pertanian pangan berkelanjutan maupun rencana tata ruang wilayah.

Walupun demikian, pengaplikasian tingkat kabupaten belum diikuti dengan penerbitan regulasi khusus. Sesuai peraturan yang ada pengalihan fungsi lahan hanya boleh dilakukan untuk kepentingan umum. Banyak petani yang tidak memperdulikan aturan yang ada dengan diimingi harga yang tinggi maka petani rela menjual lahannya. Pemerintah yang kurang tegas juga mengakibatkan alih fungsi lahan ini semakin banyak dan semakin marak terjadi.

Sebaiknya para pemerintah daerah tegas terhadap para pelanggar yang masih nekad melakukan pembangunan di lahan pertanian sehingga produksi hasil pertanian di Yogyakarta tetap bisa stabil dengan terjaganya lahan pertanian.

Penulis : Pengurus HIMASEPTA 2017-2018

Editor : Bidang KOMINFO

Problematika Pupuk Organik

pupuk

TOM (Tani Organik Merapi) berdiri pada tanggal 1 September 2008 dengan luas tanah 1 hektare. Lahan pertanian yang luas ini didirikan oleh bapak Sugiarto,S.E. Ia dan 15 tenaga kerjanya  senantiasa mengembangkan sistem pertanian organik secara maksimal. TOM lahir bertujuan untuk mewujudkan cita-cita, pemikiran, niat, serta harapan akan kondisi alam pada umumnya dan kondisi tanah pertanian di daerah merapi. TOM juga bertekad untuk ikut serta dalam program menyelamatkan lahan pertanian secara bijak.

Bapak Sugiarto menjelaskan bahwa pupuk memiliki dampak positif dan negatif pada tanan. Ia menjelaskan bahwa pupuk anorganik (pupuk kimia) memang lebih cepat diserap oleh tanah dibandingkan pupuk organik.

Namun perlu kita ketahui bahwa resiko akan pemakaian pupuk ini yaitu:

  1. Dapat merusak tanah, yaitu dengan pemakaian pupuk anorganik yang terus menerus dan mengakibatkan tanah semakin tandus.
  2. Akan terjadi penurunan produksi pertanian.
  3. Dapat merusak ekologi tanah.

Jika kita termasuk orang yang sering menggunakan pupuk anorganik, bapak Sugiarto menjelaskan adanya usaha untuk mengurangi resiko penggunaan pupuk anorganik yaitu dengan cara terapi tanah menggunakan pupuk organik. Namun perlu kita ketahui tekniknya, karena apabila kita dalam menerapi tanah ini menggunakan cara yang salah maka tanah akan semakin rusak. Caranya ketika kita mengolah tanah sebelum proses penanaman kita harus mengolahnya dengan bertahap atau dapat disebut dengan:

  1. Perlakuan prima 1, menyampurkan tahah dengan pupuk anorganik 50% dan organik 50%.
  2. Perlakuan prima 2 , menyampurkan tanah dengan pupuk anorganik 25% dan organik 75%
  3. Perlakuan prima 3, menyampurkan tanah dengan 100% pupuk organik.

Tanah juga membutuhkan penyesuaian ketika akan diberikan pupuk yang berbeda, yaitu dari anorganik menuju organik, maka disini ditekankan  ketika hendak menerapi tanah dengan perlakuan prima 1 sampai prima 3.  Perlu kita ketahui bersama bahwa setiap pupuk tentu memiliki keunggulan dan kekurangan.

Keunggulan pupuk organik :

  1. Kesuburan tanah akan meningkat, tanah akan memperbaiki sifat kimia, sifat biologi, dan sifat fisikanya.
  2. Bahan pupuk organik tersedia sepanjang tahun.
  3. Meningkatkan produksi pertanian.

Kekurangan pupuk organik :

  1. Unsur haranya lebih kecil jika kita bandingan dengan pupuk anorganik.
  2. Bersifat ruah maksudnya yaitu biaya transportasi dan biaya penanaman bertambah karena apabila tanah dipupuk menggunakan pupuk anorganik hanya membutuhkan 1 kwintal, dengan pupuk organik lebih dari 1 ton.
  3. Pembuatannya memakan waktu yang lama.

 

Penulis : Pengurus HIMASEPTA 2017/2018

Editor : Bidang KOMINFO

SEMINAR NASIONAL & LKMM 2 DPW III POPMASEPI

DPW III POMASEPI merupakan organisasi induk seluruh mahasiswa sosial ekonomi pertanian di wilayah III yang mencakup D.I. Yogyakarta dan Jawa Tengah. Untuk mencipatakan mahasiswa yang unggul dan memiliki jiwa kepemimpinan, POPMASEPI menyelenggarakan Seminar Nasional yang mengusung tema “Problematika Pupuk Organik” serta Latihan Kepemimpinan dan Manajemen Mahasiswa (LKMM) yang berlangsung pada hari Sabtu-Minggu.

Dilaksanakan pada 2 Desember 2017 di lantai 5 Gedung ARB Kampus Terpadu UMY seminar ini dihadiri oleh Ibu Tyas Kristanti, M.Si. (Dinas Pertanian DIY), Bapak Ir. Agus Nugroho Setiawan, M.P. (Dosen Agroteknologi UMY) dan Bapak Sugiarto, S.E. (Founder Tani Organik Merapi) selaku pembicara. Masih pada hari yang sama, acara ini dilanjutkan dengan LKMM yang berlangsung selama dua hari tepatnya pada 2-3 Desember 2017 di Vila Camellia, Kaliurang.

Dihadiri oleh beberapa delegasi dari 14 institusi, acara ini dapat dilaksanakan dengan lancar. Selama kegiatan berlangsung, peserta diajarkan untuk belajar menjadi seorang pemimpin yang ideal dan bisa tampil dengan baik di depan umum. Acara LKMM kali ini diisi dengan berbagai materi yang berkaitan dengan keorganisasian seperti cara berkomunikasi, kepemimpinan, simulasi sidang, dan tentu saja informasi mengenai ke POPMASEPi- an. Selain itu, acara ini juga diisi dengan pemilihan ketua angkatan LKMM 2017. Dari sembilan bakal calon yang mengajukan untuk menjadi ketua angkatan, terpilih dua calon berdasarkan kriteria yang sudah disepakati sebelumnya. Setelah penyampaian visi misi dan tanya jawab dengan peserta LKMM lainnya, terpilih Nazmi Fahreza Purba dari HIMSEP INSTIPER Yogyakarta sebagai ketua angkatan LKMM 2017.

Untuk meningkatkan rasa kekeluargaan antar peserta, pada hari kedua LKMM diadakan kegiatan outbond yang menekankan pada kerjasama anggota kelompok. Dengan lima jenis permainan yang diadakan, peserta dituntut untuk bisa bekerjasama dengan baik bersama anggota kelompok yang tentu saja berasal dari beda institusi.

Sejalan dengan visi dari POPMASEPI yaitu memacu arus sambung nalar lintas almamater, acara ini diharapkan mampu menjalin kekeluargaan antar mahasiswa sosial ekonomi pertanian se-DIY dan Jawa Tengah, serta menjadi langkah awal peserta untuk belajar menjadi seorang pemimpin.

Dokumentasi Kegiatan

lkmm 3Pembukaan Seminar Nasional Oleh Kaprodi Agribisnis UMY

lkmm 4Kegiatan Outbond Pada tanggal 3 Desember 2017

Mencuri Ilmu dari Pertanian Jepang yang Maju

jepang b

Jepang adalah suatu negara di Asia yang sudah tidak diragukan lagi kualitas produk pertaniannya. Padalah kondisi tanah disana tidak sebaik di negeri kita.  Namun karena membaca era teknologi yang baik, Jepang pun berhasil menciptakan terobosan-terobosan baru di dunia pertanian lewat teknologinya. Teknologi Jepang memang menjadi kunci sukses negara ini dalam menyediakan pangan yang berkualitas dan berkuantitas tinggi.

Tidak heran Jepang sering menjadi tujuan utama masyarakat Indonesia dalam mencari ilmu pertanian.  Namun terlepas dari teknologi yang mumpuni, perlu diketahui juga banyak hal yang mendorong Jepang maju di sektor pertanian. Karena selain teknologi, Jepang juga menerapakan cara-cara lain dalam menyeimbangkan teknologi dengan aspek lainnya.

Penyebab Suksesnya Pertanian di Jepang

  1. Etos Kerja Yang Bagus

Tidak dipungkiri, Jepang menanamkan sikap kedisiplinan yang tinggi bagi warganya. Hal ini yang membuat mereka mampu bekerja lebih efektif dan menganggap waktu adalah uang. Sehingga terlewat waktu sedikit saja, konsekuensinya adalah pemecatan.

  1. Tingginya Dukungan Pemerintah

Pemerintah ikut bahu membahu dalam memajukan pertanian di Jepang. Sebisa mungkin mereka memakmurkan petani. Dengan cara membeli hasil pertanian setinggi mungkin dari petani.

  1. Lahan Petani yang Luas

Petani disana diberikan kesempatan memiliki lahan pertanian sendiri. Luasnya pun tidak tanggung-tanggung. Di jepang petani adalah suatu profesi yang sangat menjanjikan.

  1. Teknologi Canggih

Petani disana mau menyesuaikan era perkembangan teknologi. Mereka mau menerima teknolgi baru demi kemajuan pertanian di daerah mereka.

  1. Kreatif

Petani disana tidak hanya dibekali teknolgi canggih saja, namun mereka juga kreatif. Mereka mampu menghasilkan ide-ide cemerlang yang tidak terpikirkan oleh masyarakat kita. Semua ini mereka lakukan untuk meningkatkan kualitas produk pertanian mereka.

sayuran jeapangSalah Satu Sontoh Sayuran yang ada di Jepang

KEMANA MAHASISWA PERTANIAN

pertanian

Institut pertanian pada akhir 2017 dihebohkan dengan sindiran dari Presiden Joko Widodo, yang mengatakan mahasiswa pertanian banyak kerja di bank, kemudian siapa yang bekerja di pertanian. Fenomena tersebut menjadi tamparan keras bagi institusi pertanian. Menurut pakar pertnanian dari Dwi Andreas dalam BBC 2017, mengatakan fenomena tersebut terjadi karena sektor pertanian tidak mendapatkan pendapatan yang memadai, dan berdasarkan datanya hanya 8% generasi muda dibawah 35 tahun yang berkecimpung di bindang pertanian. Sedangkan menurut Food and Agriculture Organization menyatakan sektor pertanian membutuhkan generasi muda untuk dipersiapkan sebagai masa depan ketahanan pangan.

Faktanya, berdasarkan Badan Pusat Statistika Indonesia, pertanian mengalami penurunan dilihat dari Produk Domestik penyumbang 10,21%, tetapi dari kementrian pertanian dengan Strategi Induk Pembangunan Pertanian 2013-2045 memiliki target Produk Domestik Bruto sebesar 12% pada tahun 2010. Selain itu berdasarkan data Badan Pusan Statistika Indonesia tenaga kerja dalam sektor pertanian mengalami penurunan secara signifikan sebanyak 20% dalam 4 dekade, yang dapat dilihat dalam Gambar 1. Persentase tenaga kerja sektor pertanian. Faktor tidak terpenuhinya target strategi pembangunan pertanian tersebut dipengaruhi oleh beberapa hal, yaitu lahan, infrastruktur, benih, regulasi atau kelembagaan, SDM, dan permodalan.

grafikPresentase tenaga kerja sektor pertanian dalam 4 dekade

Sumber Daya Manusia atau human resources memiliki peran yang sangat penting dalam pembangunan pertanian, karena dengan SDM yang unggul mampu memaksimalkan faktor-faktor pembangunan pertanian yang lain. Selain kondisi penurunan tenaga kerja, sektor pertanian juga diisi oleh tenaga kerja yang sudah tua dan berpendidikan rendah. Dalam konfigurasi ketanagakerjaan untuk sektor pertanian menurut data Badan Pusat Statistik hanya 0,1% dari lulusan sarjana, 0,7% dari diploma, dan 7% lulusan sekolah menengah atas. Apabila dibandingkan dengan total 32% tenaga kerja di sektor pertanian tahun 2016, maka masih tersisa sekitar 27,02 hasil dibawahnya, yaitu sekolah menengah pertama, sekolah dasar, bahkan tidak sekolah.

Kemanakah mahasiswa pertanian sekarang? Itulah pertanyaannya, seharusnya mereka memberikan perubahan kepada sektor pertananian khususnya dibidang on farm, hulu ataupun hilir, tetapi mereka lebih memilih bekerja diperusahan, perbankam, BUMN yang katanya hidupnya akan lebih terjamin. Saya sebagai penulis merasa miris dengan kondisi dimana mahasiswa pertanian tidak mau bekerja pada sektor pertanian, bahkan semenjak menjadi mahasiswa mereka tidak mau atau risih untuk turun ke sawah. Seperti itukah generasi muda zaman sekarang? kalau kata Ir. Soekarno pangan adalah hidup matinya sebuah bangsa, akan jadi apakah Negara Indonesia dimasa depan?

Penulis : Ari Suseno (Agribisnis 2015)

Editor : Bidang KOMINFO

GERAKAN TANAM DAN PELIHARA 25 POHON SELAMA HIDUP: DI PETAK 84 RPH MENGGORAN BDH PLAYEN KPH YOGYAKARTA

Pada tanggal 18 November 2017 Agribisnis UMY mengikuti kegiatan Gerakan Tanam dan Pelihara 25 Pohon. Acara tersebut diadakan di Gunung Kidul yang di selengarakan oleh Dinas kehutan Yogyakarta yang di ukuti oleh 6 Universitas besar di Yogyakarta di antaranya, UGM, UNY, ATMAJAYA, UII, UPN VETERAN, Dan UMY. Setiap Universitas diberi kuota sebanyak seratus mahasiswa. Pohon yang ditanam terdiri dari dua jenis tanaman yaitu jati dan duet, dengan jumlah bibit yang ditanam adalah sekitar 2000 bibit. Jumlah tersebut dibagi untuk 600 orang dari keseluruhan universitas yang terkait. Teknis penanaman yang digunakan yaitu dengan 8 baris lubang kebelakang untuk ditanami bibit jati dan baris/lubang ke sembilan di tanami bibit duet. Baca lebih lanjut